Al Insan ayat 1
Keren banget redaksi kalimat dalam ayat ini..kapankah itu dan apakah itu? waktu dan masa ternyata berbeda? ketika sesuatu yang belum dapat disebut? :))
Jadi ingat sebuah taujih yang disampaikan oleh seorang ustad (lupa namanya). Sebenarnya saya cuma baca sih, gak denger langsung. Kira-kira isinya begini (redaksinya telah mengalami penyesuaian oleh daya ingat saya, haghaghag)
Gampang aja kalau kita mau meninggalkan dakwah. Tinggal ganti nomor hape biar gabisa dihubungi, atau gak pernah bales jarkom, gak pernah datang ke pertemuan apapaun, menutup kemungkinan informasi, dan menyibukkan diri dengan kegiatan lain. Sama persis seperti jika kita ingin melupakan seseorang.
Usut punya usut, atas kepergian kita dalam dunia dakwah seperti itu, tidaklah sulit untuk mendapatkan pengganti diri kita, yang jaaauh lebih baik. Jadi, gak ada yang merasa dirugikan atas kepergian kita, kecuali diri kita sendiri.
Kenapa? Karena khawatirnya, Allah juga akan mencabut berkah dalam hidup kita. Hati kita menjadi kaku, hingga sebaik apapun nasihat orang tidak berarti lagi di mata kita. Hati kita menjadi kosong, hingga sebanyak apapun harta tidak dapat memberikan kebahagiaan bagi kita.
Allah dan dakwah sama sekali tidak kehilangan kita, tidak membutuhkan kita. Justru kitalah yang butuh Allah, kita yang butuh berkecimpung dalam dakwah.
Jadi, sebelum keberkahan dicabut dari hidup kita, sebelum memutuskan untuk kabur dari dakwah, coba evaluasi diri dulu :)
Aslinya sih taujihnya bahasanya lebih berat, tapi esensinya tetap sama.
Lalu saya coba mencari definisi tentang berkah:
Ar Raghib berkata : “Barakah berarti tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu.”
Ibnul Qayim berkata : “Barakah berarti kenikmatan dan tambahan. Sedangkan hakikat barakah adalah kebaikan yang banyak dan terus menerus yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah tabaraka wa ta’ala.”
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata : “Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Diambil dari kata al birkah (ﺍﻠﺑﺮﻜﺔ) yang berarti tempat terkumpulnya air (kolam). Dan tabaruk berarti mencari barakah.”
Nah, bicara tentang berkah, ternyata memang berasa banget ya hadirnya keberkahan itu dalam hidup kita. Beberapa hari yang lalu, saat saya menjalani pekerjaan entah kenapa rasanya banyak hambatan -__- pencapaian saya dalam sehari bisa cuma 20% dari target. Selain itu pikiran rasanya mumet sangat. Saya merasa hari ini dan kemarin adalah jauh lebih baik dari sebelumnya, setidaknya pencapaian saya sekitar 80-90 % dari target. Yeyeyeyelalalalala..Semoga nikmat ini, kemudahan ini, dan kebahagiaan ini semakin bertambah dan bertambah di setiap waktunya.
Ada satu pemandangan menarik yang terjadi kemarin sore saat saya pulang kerja. Di sebuah bis umum yang rutin saya tumpangi itu, entah mengapa pada sore itu begitu sepi. Dan karena itulah, beberapa pekerja seni jalanan mengambil peluang untuk meraba rezeki mereka di bis ini. Pertama, pemain sulap. Jarang-jarang bisa lihat permainan sulap “live” macam begini :D Btw, pak pesulap ini orang baik, waktu ada ibu-ibu turun dari bis membawa tiga anak dan tas besar, dia membantu mereka turun.)
Kedua, seorang pengamen disfabel. Tangan kanannya hanya sampai siku, tangan kirinya hanya sampai pergelangan tangan. Keduanya tidak punya jari. Wajahnya juga tidak sempurna, maksud saya tidak seperti kebanyakan orang. Saya bingung menjelaskannya. Intinya itu membuat bapak ini agak kesulitan bicaranya. Dengan keterbatasannya, ia menggendong tape beserta speakernya (seperti pengamen kebanyakan di kereta). Lalu bernyanyi dengan iringan lagu dari tape nya.
Kenapa aku dilahirkan ke dunia ini
Hanya untuk menanggung malu dan beban
Kira-kira begitu potongan syairnya yang saya ingat. Tipe lagunya semacam lagu jaman dulu yang melow-melow. Meski nyanyi melow begitu, ia tetap mengguratkan senyum. Entah ya, saya rasa itu senyuman tulus.
Ketika bis berguncang karena rem mendadak, atau karena belok sana sini, tentunya bapak pengamen ini ikut terhempas-hempas (lebay, cuma agak sedikit kehilangan keseimbangan sih). Tapi biar begitu, dia masih berusaha memegang pegangan bis yang diatas (tiang-tiang berbaris horisontal di langit-langit bis itu loh) dengan sambil bernyanyi. Sesekali ia dibantu oleh penumpang yang hendak turun.
Setiap penumpang yang hendak turun menyisihkan rezekinya untuk bapak ini. Ada yang sambil ikut mendoakan “Semoga sehat-sehat ya Pak”. Saya pun turun, tanpa tahu akhir perjalanan mengamennya si bapak ini di bis itu.
Lesson learned nya adalah Allah selalu melihat kerja keras masing-masing kita. Meski dengan segala keterbatasan yang dimiliki, jika kita bekerja keras dengan ikhlas, tidak hanya pasrah dan bermalas-malasan, entah pekerjaan itu diremehkan orang atau tidak dinilai oleh orang-orang kebanyakan, maka selalu saja masih ada satu atau beberapa orang yang diketuk hatinya oleh Allah.
hehe..
Pertanyaan pertama: Siapa yang ngasih nama mainan anak-anak ini dengan sebutan Odong-odong? dan Kenapa?
Kedua: Siapa pencetus pertama Odong-odong ini?
Ketiga: Sampai kapankah mainan ini akan bertahan di zaman ini?
Keempat: Bagaimana pengaruh Odong-odong dalam pelestarian kebudayaan nasional?
Kelima: Bagaimana pengaruh Odong-odong dalam tumbuh kembang anak?
Kalau saya bikin penelitian sosial dengan rumusan masalah seperti itu kayaknya seru..mihihihi wakakakakakak *ampun deh ketauan banget ini lagi gak ada kerjaan* *lebih tepatnya, saya selalu meluangkan waktu untuk memikirkan hal tidak penting (atau mungkin memang penting) seperti ini*
Jawaban untuk pertanyaan 1-3 saya gak tahu jawabannya, belum mencari tahu juga sih. Yang seru tuh pertanyaan nomor 4 dan 5. Kenapa? Karena mainan odong-odong terkhusus yang lagunya lagu anak dan lagu daerah itu cukup menarik. Apalagi kalo kasetnya udah agak-agak, temponya jadi lebih cepat mirip versi remix..mihihi
Saya jadi ingat, dulu selain dari pelajaran seni musik di sekolah, saya kenal lagu-lagu daerah tuh dari kaset atau vcd..jaman sekarang, kayaknya gak banyak deh yang jual cd atau dvd lagu daerah. Lebih tepatnya, gak banyak yang beli.
Dengan adanya mainan Odong-odong ini, para ibu atau siapapun itu yang mau nyuapin anaknya, terlebih yang anaknya susah makan, bisa memanfaatkan sarana ini :) Anak-anaknya dengan begitu ajaib bisa tenang dan nurut disuapin sambil naik odong-odong..haghagahag. Sambil menyelam minum air, sambil makan tuh anak-anak bisa nikmatin lagu anak dan lagu daerah, dengan beat yang begitu menarik di teliga mereka, membangun suasana riang gembira. Pasti tuh anak-anak seneng
Entah kenapa, belakangan ini, odong-odong rasanya sudah kehilangan jati diri. Lihat, lagu yang diputar sekarang lagunya ceribel, coboy junior, bahkan lagu dangdut. Apakah ini karena ego abang-abangnya yang juga butuh hiburan, ataukan ini tuntutan zaman?
Ckckckckc…
*tulisan ini alay abis -__-
Selalu ada pengalaman pertama di setiap Ramadhan. Entah ya, bulan Ramadhan di tiap tahun selalu memberikan sensasi berbeda.
Ramadhan dimana saya pertama kali berkenalan dengan kegiatan i’tikaf adalah saat saya kelas satu SMA
Ramadhan dimana saya pertama kali solat tarawih ke mushola dekat rumah saya tanpa teman-teman masa kecil adalah saat saya kelas tiga SMP *soalnya teman-teman udah pada gahul-gahul gak mau lagi tarawehan :(
Ramadhan dimana saya pertama kali nggak rutin solat tarawih di masjid/mushola adalah saat jadi maba. Sedih banget ini, soalnya kegiatan awal kampus itu sampe maghrib gitu, jadinya buka di jalan dan solat tarawih di rumah
Ramadhan dimana saya i’tikaf sendirian di Masjid BI dan Istiqlal adalah saat saya semester akhir. Sedihnya, waktu itu gak ada teman yang bisa diajakin i’tikaf di BI, akhirnya saya sendirian. Tapi, ketemu widyong dan anak-anak Rumah Quran yang juga i’tikaf disana :D Dan yang di Istiqlal adalah karena abis ngajar privat di daerah Pasar Baru, maka saya beranikan diri untuk nyoba i’tikaf di Istiqlal. Sendirian! dan GAK ENAK! :( masjidnya yang gak enak
Ramadhan dimana saya pertama kali khatam 2 kali adalah saat tingkat 2 atau 3 gitu..lupa..
Ramadhan dimana saya pertama kali jauh dari keluarga karena harus nginep di kutek adalah saat jadi mentor di OPK FEUI 2011 (kalo gak salah). Waktu itu seru banget karena saya nginep satu minggu full gak pulang ke rumah. Sahur di warteg sekalian ke kampus, solat subuh berjamaah di kampus, buka bersama di kampus. Dan di kutek itu sekamar berempat orang! Seruu bangget :)) Jadi pengen lagii…
Ramadhan dimana saya pertama kali gak puasa kecuali cuma beberapa hari adalah tahun lalu saat saya sakit. AAAk…ini sedihnya parah..gak dapet feel Ramadhannya…hix
Ramadhan dimana saya pertama kali bekerja adalah tahun ini, Insya Allah :)) Juga tahun ini pengennya menjadi Ramadhan yang pertama bagi saya untuk i’tikaf di Masjid Sunda Kelapa dan MUI :))
Pagi ini, saya berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Sejak Subuh memang sudah turun hujan, tapi pas saya berangkat sudah berhenti hujannya. Pemandangan langit pagi ini cukup horor sodara-sodara! Langit gelap diselimuti awan hitam. Udah berasa sebentar lagi muncul dementor atau bahkan Voldemort sekalipun! *imajinasiliar*
Alhamdulillah sampai kantor dengan selamat tanpa kehujanan :) Dan Voldemort pun tak muncul batang hidungnya (eh, kalau di film kan voldemort emang gak ada hidungnya -__-)
Tanya : Berapakah sebenarnya usia Nabi Adam AS ?
Jawab : Dalam buku Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir menuliskan bahwa jarak dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Idris AS adalah 1000 tahun sehingga disimpulkan bahwa usia Nabi Adam AS adalah 1000 tahun sedangkan pada kitab Tafsir At…
(via ireneshofia)
Muhammad Qutb
(via deenscreens)
iya sepakat. tapi gimana kalau anak itu kemudian jauh dari ibunya dan masuk ke dalam lingkungan yang baik…
(via zakiyus-shadicky)
Ternyata setiap hari Jumat di kabupaten Sikka, NTT disebut hari pendek, jam kantornya hanya sampai jam 11 siang.
Wah, kenapa ya kenapa? apa karena hari Jumat untuk Solat Jumat dan ibadah-ibadah lainnya? penasaran, soalnya setahu saya daerah ini bukan mayoritas muslim
Pepatah bijak mengatakan selalu ada hal yang pertama kali bagi kita. Hem, sepertinya redaksinya kurang oke, tapi ya kira-kira begitulah. Bermodalkan pengetahuan yang saya baca mengenai cara tumbuh dan berkembangnya ego dewasa dalam diri seseorang, yaitu dimulai dari usia balita ketika mereka baru pertama kali mengenal benda-benda dan peristiwa, mereka begitu khusyuk memperhatikan dan menanamkan dalam benak mereka. Juga bermodalkan observasi saya kepada anak-anak, bahwa setiap dari mereka begitu menikmati hal-hal yang baru dalam hidup mereka. Ketika mereka mengenal mainan, memperhatikannya, meneliti bentuk dan cara mainnya, lalu memainkannya, lalu bosan dan meninggalkannya. Juga dari ekspresi mereka yang begitu takjub atas hal-hal baru.
Maka, memang seharusnya seperti itulah kita mengisi hari-hari kita. Menemukan hal-hal baru, menjadikannya sebagai yang pertama kali bagi kita, untuk kemudian kita nikmati dan kita takjubi. Tidak perlu menunggu hal-hal besar terjadi. Hal kecil begitu banyak di sekitar kita.
Misalnya, kalau kita memperhatikan pohon-pohon di sekitar kita, bentuknya begitu berbeda-beda (YAIYALAAAH!) Maksud saya, ada pohon yang bentuknya lucu dan unik, yang saya baru ketahui itu, dan hingga kini saya tidak tahu nama pohon itu apa. Atau, kalau kita memperhatikan bangunan di sekitar kita, misalnya rumah-rumah dubes atau kedubes yang ada di dekat kantor saya, sebenarnya itu mencerminkan negara yang bersangkutan dan bangsanya. Gak tau benar atau tidak, tapi saya anggap seperti itu (suka-suka saya, yang penting hal itu menjadi hal baru bagi saya :p)
Juga ketika bermain dengan mesin fax (lagi-lagi fax, hahahah). Penasaran dengan cara kerjanya, juga kenapa kadang fax kita tiba-tiba ada notifikasi eror padahal yang di seberang sana bilang kalau faxnya sudah diterima, juga kenapa kadang bisa langsung berlembar-lembar terkirim sukses kadang perlu dimasukin satu per satu biar sukses, juga ada yang mesin faxnya secara otomatis mengeluarkan nada fax ada yang perlu ngomong dulu sama petugasnya (kira-kira kenapa demikian?). Suka iseng aja menganggap hal itu menarik dan seru untuk di’penasaran’in. Heheh, cuma biar proses menjalani kerjaan jadi lebih seru ajah :p
Atau berbicara dengan berbagai orang dari berbagai daerah. Ada yang ramah banget, sampe dia ceritain keadaan daerahnya, ada yang suaranya datar-datar aja (mungkin udah capek pengen pulang soalnya saya telepon udah sore), ada yang ternyata udah gak di dinas itu lagi atau udah pensiun, ada yang kedengaran pembicaraan di belakang telepon seberang (mereka ngomong kenceng banget, jadi lucu dengerin mereka entah ngomongin apa, terdengar hectic sih :p).
Yah begitulah, semuanya seru dan menarik. Semuanya, tinggal kita temukan dan jadikan ia sebagai hal baru dan pengalaman pertama dalam hidup kita, seperti anak kecil yang begitu menikmati hidupnya :D
Ada kalanya, kita tidak mempunyai daya untuk mengambil sikap, entah karena merasa bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan jika kita mengikutinya tanpa mengambil sikap, entah karena terlalu lemah hingga tak berani mengambil sikap, atau entah karena memang sikap kita adalah tidak mengambil sikap.
Jika salah satu dari alasan itu, mungkin juga alasan di luar itu, memberikan efek ragu dalam hati kita, ada semacam rasa tidak nyaman dan tidak enak, maka kembalilah pada titik itu. Titik dimana menyerahkan segalanya kepada Allah, membiarkan Allah yang mengambil sikap untuk kita. Berharap Allah pasti mengambil sikap yang terbaik untuk kita dengan alur cerita bikinanNya.
Selain tetap memohon dan berharap, kita pun harus jeli terhadap setiap hal. Karena boleh jadi, itulah bagian dari sikap Allah untuk kita., untuk kemudian disyukuri dan dijalani dengan penuh kecintaan terhadapNya.
Pernah suatu hari saya diajak pergi nonton. Saya tidak punya alasan untuk menolaknya, kecuali karena pada dasarnya saya kurang suka nonton-nonton di bioskop (kebanyakan saya nonton di bioskop juga karena hasil ajakan teman, saya lebih suka nonton di rumah). Tapi atas nama pertemanan dan jalinan interaksi sosial, saya tidak bisa mengambil sikap untuk menolak. Lemah banget ini :p
Tapi, muncul ke-ragu-raguan dalam diri saya. Seharusnya ini bukan saatnya untuk bersenang-senang menghabiskan uang untuk hiburan yang bisa diperoleh dengan cara lain. Seharusnya saya bisa memanfaatkan uang dan waktu itu untuk urusan yang lebih berharaga bukan hanya untuk saya tapi juga adik-adik saya. Daaaan pikiran-pikiran semacam itu muncul silih berganti mendekati jam keberangkatan saya dan teman-teman ke bioskop. Saya dalam hati begitu memohon kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik, entah untuk menolak ajakan itu, entah hal lainnya.
Lalu, hujan pun turun deras.
“Kalau masih hujan deras, kayaknya gak jadi deh,” kata teman saya. Saya ber “yess!” dalam hati
Lalu, hujan berhenti. Dan kami jadi berangkat. Oh, yah mungkin ini yang terbaik, sudahlah ikhlaskan saja. Mungkin ini waktu untuk saya bersenang-senang.
“Untuk film itu, bangku yang tersisa hanya tinggal satu baris paling depan,” kata mbak-mbak penjual tiket.
“Yaaaaah, males banget kalo paling depan gitu. Gak jadi deh,” kata teman saya. Sempat terpikir untuk mencari bioskop lainnya, namun hujan kembali turun dan tentunya jalanan sudah sangat macet.
Akhirnya, kami pun hanya makan-makan sambil menunggu hujan reda.
Selesai.
Begitulah, Allah sangat baik pada saya, telah mengambil sikap untuk saya :)
Nikmat yang tersyukuri
Musibah yang disabari
Ibadah yang teridhoi dan
Dosa yang diampuni
Sungguh cukuplah keindahan hidup ini
“Setiap hari DIA dalam kesibukan” (QS.55:29)
Mengurusi makhluq-NYA
Mengampuni dosa mengijabah pinta
Meridhai hamba
Lalu seberapa sibukkah kita pada-NYA ?