(Reblogged from homedesigning)

Status: dalam proses menyelesaikan baca novel Pandawa Tujuh. Cerita wayang itu ternyata sangat seru dan menarik!

*update status di tumblr..hahah :p

Memang mahal

Keindahan itu memang mahal. Sebuah bangunan, memiliki fungsi yang sama namun harganya sangat berbeda ketika ditambahi aksesori keindahan arsitektural dan interior. Sebuah taman hingga menjadi indah memerlukan sekian banyak tanaman dan perawatannya serta penataannya, dan itu semua tidaklah murah. Sebuah kafe, semua makanan menjadi mahal ketika kafenya memiliki keindahan tersendiri, ia membebankan biaya keindahan tersebut pada setiap makanan yang dijajakannya.

Padahal, keindahan seharusnya memiliki eksternalitas positif bagi para penikmatnya. Eksternalitas tidaklah memerlukan biaya untuk mendapatkan rasa dan manfaat, tapi kenapa untuk menghadirkan keindahannya membutuhkan semahal itu? Maksud saya, kenapa mesti kita yang mengeluarkannya?

….

Karena..

Karena kita tidak bisa selamanya mengharapkan eksternalitas tersebut. Kita bukan lagi pada posisi menunggu orang lain menghadirkan keindahan. Sekarang, tugas kita yang menciptakan keindahan sekaligus eksternalitasnya bagi yang  membutuhkan.

Percuma..

Biasanya saya bahagia ketika memasuki hari Jumat, tapi kali ini sedikit berbeda. Ada sedikit yang mengganjal hingga saya tidak bisa menikmati dengan lapang apa-apa yang terjadi. Juga saya menjadi kurang bisa berekspektasi tentang menjemput kebahagiaan untuk dua hari ke depan.

Yaitu, karena selama ini saya belum bisa berbagi kebahagiaan bersama orang-orang terdekat saya. Percuma rasanya, bahagia jika mereka “menderita”. Sayangnya, berbagi sekedar tips tidak akan berpengaruh, pengertian mengenai persepsi bahagia belum mereka dapatkan. Mereka masih mengira bahwa bahagia adalah ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ternyata belum semua sependapat bahwa rasa syukur lah yang melipatgandakan kebahagiaan. Bahwa hati bersihlah yang menampakkan senyum kecil kita. Dan ternyata tidak mudah membawa ide ini kepada mereka yang tidak melunakkan hati dan pikirannya.

Manusia, sungguh menarik untuk dipelajari, sekaligus teramat sulit untuk dipahami.

Menulis sekedarnya

Kalau kata Agutinus Wibowo, menulis itu ada tujuannya. Sebuah cerita yang baik adalah yang dalam kalimat pertama bahkan kata pertamanya pun, seseorang bisa tahu kemana sebuah tulisan akan mengarah. Juga, tulisan yang baik adalah yang dapat mendeskripsikan sesuatu hingga pembaca merasakan persis seperti apa yang dirasakan penulis. Bukan hanya memberitahu secara eksplisit.

Di sisi lain, Paul Krugman mengatakan bahwa jangan pernah menganggap bahwa data-data akan berbicara sendiri mengenai dirinya. Gunakan data untuk membantu menjelaskan tentang sesuatu (teori).

Dari dua pendapat yang berhubungan dengan kepenulisan di atas, saya menarik kesimpulan sederhana bahwa ada perbedaan mendasar antara menulis cerita dan menulis akademis. Menulis cerita dilarang menjelaskan secara eksplisit, sedangkan menulis akademis dilarang menjelaskan secara implisit. Menulis cerita diharuskan mendeskripsikan sesuatu dan membiarkan pembaca menyimpulkannya sendiri, sedangkan menulis akademis mendeskripsikan sesuatu untuk sampai pada kesimpulan yang penulis bikin, tidak boleh berujung pada kesimpulan yang berbeda.

Lalu, lihat baik-baik pada tulisan-tulisan saya di dalam tumblr ini. Hahaha..ternyata selama ini, saya tidaklah menulis cerita ataupun menulis akademis. Saya hanyalah menulis sekedarnya ^^ Tapi itu pun tidak salah (suka suka aku, tumblr tumblr aku ~~)

Sebenarnya, besar keinginan hati untuk menulis cerita..namun apa daya, ternyata saya terlalu malas, bahkan hanya untuk mendeskripsikan sesuatu. Lain kali, saya harus bisa mengatasi kemalasan itu. Hap!