Mitos #komik #comic #doodle #artworks #drawing

Menulislah. Jangan malas untuk menuliskan apapun, meski belum punya cerita fiksi ataupun nyata yang potensial untuk dirangkai menjadi cerita beralur indah dan bermakna. Lebih baik menulis sekedarnya dibanding diam dan nihil. Seperti sekarang, saya akan menulis tentang sesuatu yang biasa saja, bisa tentang perbedaan derajat orang-orang dan cara mereka berkomunikasi satu sama lain, atau tentang betapa kerennya kisah-kisah wayang, atau tentang asal muasal istilah ngalor ngidul, atau tentang betapa minimnya kemampuan SDM Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah produk manufaktur.

Nah, sudah satu paragraf kan. Lalu paragraf ini akan berisi tentang tema apa yang akhirnya saya pilih. Sepertinya semua tema itu akan menghasilkan tulisan yang panjang jika saya niatkan sepenuh hati menulisnya. Tapi berhubung saya tidak terlalu niat, dan demi melawan rasa malas saja, sepertinya ada satu tema yang bisa dijadikan sebagai penutup tulisan ini. Haha

Mengenai istilah ngalor ngidul, yang cukup lazim digunakan oleh orang-orang untuk menyifati kejadian yang hanya berputar-putar, tidak jelas, dan tak tentu arah. Ngalor ngidul berasal dari bahasa jawa, “lor” yang berarti utara, dan “kidul” yang berarti selatan, kemudian ditambah sebuah prefiks hingga menjadi “ngalor” yang berarti ke utara, dan “ngidul” yang berarti ke selatan. Ngalor ngidul, bisa berarti dari selatan ke utara setelah itu balik dari utara ke selatan begitu seterusnya, atau bisa diartikan dari selatan ke utara lalu terus hingga memutar dan balik ke titik awal di selatan, seperti mengelilingi bumi. Namun, pertanyaannya adalah mengapa untuk menggambarkan situasi atau hal yang berputar-putar, bolak-balok, dan tak tentu arah seperti itu menggunakan istilah utara-selatan, kenapa bukan timur-barat?

Timur, dalam bahasa jawa disebut “wetan”, dan barat disebut ” kulon”. Jika ditambah prefiks yang sama maka istilahnya menjadi ngewetan ngulon (semoga tidak salah :p).

Ayah saya coba memberikan jawaban atas pertanyaan kecil saya itu. Dikatakannya bahwa jika kita dari timur ke barat, maka perjalanan akan terhenti pada suatu tempat yang menjadi kiblat kita. Itu adalah tujuan akhir, hingga perjalanan tidak lagi tak tentu arah, tidak lagi berputar-putar. Perjalanan timur-barat mempunyai tujuan akhir yang jelas, sedang perjalanan utara-selatan tidak.

Begitulah kira-kira hasil diskusi kami mengeni istilah ngalor ngidul. Kami tidak tahu seberapa benar hasil analisis ini, tapi cukup menjawab rasa penasaran saya. Hehe. Maka, selesai sudah tulisan ini.

(Reblogged from homedesigning)

Status: dalam proses menyelesaikan baca novel Pandawa Tujuh. Cerita wayang itu ternyata sangat seru dan menarik!

*update status di tumblr..hahah :p

Memang mahal

Keindahan itu memang mahal. Sebuah bangunan, memiliki fungsi yang sama namun harganya sangat berbeda ketika ditambahi aksesori keindahan arsitektural dan interior. Sebuah taman hingga menjadi indah memerlukan sekian banyak tanaman dan perawatannya serta penataannya, dan itu semua tidaklah murah. Sebuah kafe, semua makanan menjadi mahal ketika kafenya memiliki keindahan tersendiri, ia membebankan biaya keindahan tersebut pada setiap makanan yang dijajakannya.

Padahal, keindahan seharusnya memiliki eksternalitas positif bagi para penikmatnya. Eksternalitas tidaklah memerlukan biaya untuk mendapatkan rasa dan manfaat, tapi kenapa untuk menghadirkan keindahannya membutuhkan semahal itu? Maksud saya, kenapa mesti kita yang mengeluarkannya?

….

Karena..

Karena kita tidak bisa selamanya mengharapkan eksternalitas tersebut. Kita bukan lagi pada posisi menunggu orang lain menghadirkan keindahan. Sekarang, tugas kita yang menciptakan keindahan sekaligus eksternalitasnya bagi yang  membutuhkan.