Tentang masalah

Dari saling cerita itu, kita menjadi tahu bahwa ada perbandingan yang sebenarnya tidak bisa diperbandingkan. Dia merasa masalahnya sangat berat, yang lain merasa masalahnya lah yang terberat, ada pula yang merasa orang lain sangatlah lemah karena masalahnya hanya segitu. Hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan: manusia punya titik masalahnya sendiri-sendiri.

Ada lagi yang begini. Ia berusaha menolak kenyataan bahwa telah terjadi masalah dalam hidupnya. Bukan. Ia hanya berusaha untuk tidak memandangnya sebagai sebuah masalah. Nyatanya, secara tidak sadar ia telah terpengaruhi oleh masalah yang bukan dianggap masalah itu. Hingga mau tak mau, ia harus mengakui bahwa itulah masalah yang harus ia hadapi.

Kemudian, dibutuhkan sebuah waktu. Waktu untuk mengakui semua hal itu. Waktu untuk mendefinisikan emosi yang perlu dikeluarkan.

Topik skripsi

Akibat dari Ulen Sentalu, saya merasa mendapat banyak inspirasi untuk topik skripsi adik saya. “Gimana kalo lw neliti tentang bagaimana peran seorang raja dalam fungsinya sebagai penjaga kebudayaan?”, usul saya. Bagi saya itu sangat menarik. Seorang raja di Jawa, salah satu indikator keberhasilannya bahkan adalah menciptakan sebuah tarian. Sebegitu krusialnya kebudayaan tersebut bagi kerajaan.

"Wah iya, seru tuh kayaknya. Tapi jatohnya ini jadi kayak anak antrop, mbak. Bedanya humaniora sama sosial adalah kita neliti produk manusia/ produk kebudayaan, kalo antrop neliti manusianya," kata adik saya. "Palingan ini bisa jadi latar belakang, sih." Ia mengambil buku catatannya, dan mencatat topik yang saya usulkan tadi.

Good. Keseriusannya semakin meningkat. Seneng deh. Hoho.
Tapi emang serius, ini tuh seru banget. Rumpun sosial emang kece sih, banyak banget topik yang bisa diangkat. Semakin kita bisa mempelajari kebudayaan dan masyarakat kita, semakin kita bisa paham bagaimana bangsa ini terbentuk dan potensinya ke depan.

"Oiya, atau lw neliti tentang pengaruhnya kerajaan di masa sekarang, kan keturunan-keturunan itu tetap eksis sampe sekarang tuh.." ini sih sebenernya saya aja yang penasaran, haha. "Masih cakupan antrop kayaknya itu.."

rufisa
Cari pasangan gak perlu yang mapan, yang penting kita tahu apa rencana dia untuk ke depannya, dan kamu ada dalam rencananya. Gak perlu profesinya harus ini harus itu, memang cinta juga butuh makan. Namun ada satu perasaan di mana berjuang bersama itu nikmat sekali.

Khariz (via adindasukma)

yang penting kita tahu apa rencana dia untuk ke depannya, dan kamu ada dalam rencananya. 

(via luthfitriana)

Mau share ah.

(via rufisa)

nah kan pengen di reblog dah ini..u.u